Posts

Sekolah Berstandar Internasional (?)

Sekolah Berstandar Internasional. Sekarang ini rame-rame pendidikan di Indonesia baik itu jenjang SMA maupun pendidikan tinggi mulai menggunakan sistem bilingual dalam proses pembelajaran di kelas. Guru matematika, harus bisa mengajar dalam bahasa Inggris, demikian juga dengan mata pelajaran yang lain. Katanya ini dilakukan untuk menuju standar internasional. Di sisi lain, perguruan tinggi juga mulai membuka bilingual program. Dalam bilingual program ini, baik mahasiswa maupun dosen wajib menggunakan bahasa Inggris. Yang menarik untuk dicermati adalah pemahaman tentang standar internasional itu sendiri. Jangan sampai, yang dimaksud dengan standar internasional hanya sebatas bahasa internasional yang digunakan, dalam hal ini Bahasa Inggris. Padahal, ketika kita bicara tentang sekolah, maka komponen-komponen dalam manajemen sekolah itulah yang harus menggunakan standar internasional, bukan sekedar bahasanya. Komponen-komponen manajemen sekolah yang dimaksud adalah kurikulum (terutama), s...

Kesetaraan Gender...

Baru-baru ini saya membaca tulisan salah seorang teman tentang kesetaraan jender. Tulisannya mengingatkan saya tentang pelatihan yang pernah saya ikuti mengenai gender. Bulan Maret lalu, alhamdulillah saya dapat peluang untuk mengikut pelatihan tentang Gender and Economic Policy Analysis di Institute of Social Studies, Belanda. Pada awalnya saya tidak begitu tertarik untuk mempelajari ataupun berdiskusi tentang gender. Entah kenapa, saya merasa cukup banyak orang-orang yang menyuarakan tentang kesetaraan gender tetapi tidak betul-betul menyuarakan kebutuhan perempuan (terlalu subjektif kali ya...). Ada kekhawatiran kegiatan pemberdayaan pemberdayaan perempuan akhirnya akan lebih mengarah kepada penguatan peran perempuan yang semakin terpinggirkan. Selain itu, berbicara soal gender, tidak sepenuhnya soal perempuan, melainkan juga soal laki-laki. Ketidakadilan bukan persoalan perempuan saja, tetapi juga persoalan laki-laki, karena kesetaraan gender bukan soal kesetaraan perempuan saja ...

Waktu Yang Terbuang

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Kehabisan ide?? Rasanya tidak juga, cuman mood untuk menulis yang memang agak hilang belakangan ini. Mau bilang tidak punya waktu untuk menulis, kok rasanya ndak cocok ya. Perasaan orang lain jauh lebih sibuk dibanding saya tapi masih punya waktu untuk menulis... Bicara soal waktu, saya teringat akan pertemuan dengan salah seorang rekan dosen di kampus. Beliau mengatakan begitu banyak hal yang telah dicoba untuk dilakukan dalam rangka perubahan, namun hasilnya tetap begitu-begitu saja. Waktu itu secara spontan saya bilang "kita butuh waktu". Dengan serta merta teman tadi langsung berkata, "... tapi sejak 10 tahun lalu kita sudah mengatakan hal tersebut... - butuh waktu", dan hasilnya sampai sekarang tetap saja tidak ada perubahan. Beliau kemudian menambahkan, jangan sampai, kita selalu mengatakan butuh waktu, tapi sebenarnya yang terjadi adalah kita membuang-buang waktu... Jika sudah tidak ada lagi yang dapat...

Ramai-ramai menggugat UAN

Hasil Ujian Akhir Nasional menuai kritik dari berbagai kalangan. Mulai dari siswa yang tidak lulus, orang tua siswa, dan lain-lain. Tingginya angka ketidaklulusan yang terjadi di beberapa sekolah membuat orang ramai-ramai meminta pemerintah untuk mengkaji kembali kebijakan Ujian Akhir Nasional. Bahkan ada yang langsung meminta untuk menghapus UAN dengan alasan UAN tidak menggambarkan hasil proses belajar selama beberapa tahun dan diskriminatif terhadap beberapa siswa yang tergolong cerdas di kelas tapi akhirnya tidak lulus. Untuk mengkaji kembali kebijakan UAN menurut saya adalah hal penting yang perlu untuk dilakukan dalam rangka membuat standar dan pemetaan yang jelas tentang kualitas pendidikan kita. Seharusnya, hasil UAN ini dapat dijadikan acuan untuk mengevaluasi kembali proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Apakah guru benar-benar telah mengajar dan membuka peluang bagi siswa untuk benar-benar belajar. Banyak hal yang bisa dievaluasi berdasarkan hasil UAN ini, bukannya mala...

"POLRI" dan "TNI"

Anda mungkin pernah bahkan beberapa kali menonton berita seperti yang saya tuliskan ini di televisi. Pada beberapa kejadian penipuan, ada-ada saja anggota masyarakat yang melakukan penipuan dengan mengaku sebagai anggota POLRI atau TNI dan meminta uang dari masyarakat. Modus penipuannya pun sederhana, cukup dengan memakai seragam POLRI atau TNI dan mereka merasa punya modal untuk “meminta uang” dari masyarakat setempat. Sebenarnya kegiatan penipuan adalah hal yang biasa terjadi di negeri ini. Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa beberapa penipu itu justru memilih untuk menjadi anggota POLRI atau TNI jadi-jadian. Ada apa dengan kedua abdi negara ini sampai bisa memberikan inspirasi kepada para “pencari uang” untuk menggunakan seragam mereka. Mungkin patut untuk dicermati :)

Beginilah Kita...

Di suatu tempat di negeri ini terjadi perkelahian massal antara dua kampung. Penyebabnya keliatan sepele, beberapa pemuda yang sedang berkumpul di kampung yang dikunjungi tidak menjawab sapaan dua pemuda tamu dari kampung sebelah. Akibatnya kedua pemuda tadi merasa tidak dihargai dan menceritakan kejadian tersebut kepada teman-temanya. Karena merasa “dilecehkan” terjadilah penyerbuan dan perkelahian massal tidak dapat dihindarkan.... Di suatu kampus di negeri ini, terjadi perkelahian massal antara mahasiswa. Penyebabnya sendiri “kurang jelas”. Tapi satu hal yang tampak adalah adanya arogansi mahasiswa terhadap jurusan dan fakultasnya masing-masing. Entah apa yang memicu perkelahian itu, tapi tampaknya mahasiswa yang diharapkan menjadi pemimpin di masa depan tidak mampu menggunakan logika sehat dan benar untuk melihat persoalan yang ada. Perkelahian terjadi, dan yang paling ironis mahasiswa sanggup membakar sendiri kampusnya, tempat yang seharusnya menjadi “rumah” tempat mereka menuntut...

BELAJAR DARI TKI

Berita tentang pemulangan TKI illegal dari Malaysia sekarang sedang marak-maraknya di berbagai media massa. Pemulangan missal ini cukup menarik perhatian, karena beberapa TKI tersebut memutuskan untuk tetap tinggal di Malaysia, dan ada juga yang berencana untuk pulang kembali ke Malaysia. Alasannya sederhana saja: UANG. Menurut mereka, dengan kembali ke Indonesia, mereka akan kehilangan mata pencaharian untuk menghidupi keluarga mereka. Sedangkan untuk mencari pekerjaan baru akan sangat sulit, sehingga mereka lebih memilih untuk tetap mengadu nasib di negeri jiran tersebut. Ada satu hal yang membuat saya sangat kagum dengan para TKI kita ini. Meskipun tanpa keahlian yang memadai, mereka berani mengadu nasib ke negeri orang. Hanya dengan bekal KEBERANIAN dan KEINGINAN KUAT untuk dapat hidup lebih layak, mereka berani MENGAMBIL RESIKO untuk pergi jauh meninggalkan orang tua dan sanak saudara tercinta. Uang memang selalu menjadi motivator yang sangat kuat dan berpengaruh pada setiap keput...