Beberapa hari lalu, sepulang dari belanja belinji di Robinson Denpasar, saya berjalan kaki pulang menuju tempat kost. Di perjalanan pulang, saya mengecek handphone saya, siapa tau ada telpon atau sms masuk tapi tidak kedengaran. Alhamdulillah ternyata tidak ada. Sambil berjalan, saya memasukkan kembali handphone saya ke tas dan tiba-tiba mendengar seorang anak SMP memanggil dan mendekati saya. "Bu, bisa pinjam handphonenya?". Saya tanya balik, mau menghubungi siapa? Anak itu menjawab, "Ibu saya, mau minta dijemput sekarang". Dengan senang hati saya meminjamkan handphone saya dan membiarkan anak tersebut berbicara dengan ibunya.
Setelah kejadian itu saya berpikir. Untuk orang tua yang anak-anaknya biasa dijemput pada saat pulang sekolah, pastikan anak Anda memiliki pulsa kalo dia memiliki handphone, atau pastikan Anda menjemputnya tepat waktu. Kejadian yg saya alami membuat saya berpikir, bagaimana kalau anak tersebut meminta tolong kepada orang yang memiliki niat tidak baik? Selain itu, saya bersyukur dalam hati. Bukankah nikmat Tuhan tidak selamanya harus diukur melalui materi dalam bentuk benda nyata? Kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya untuk membantu anak tersebut merupakan suatu berkah dan nikmat luar biasa yang tidak bisa diukur dengan uang atau materi lainnya. Terima kasih Tuhan, sekali lagi memberikan saya kesempatan untuk belajar...
Wednesday, February 25, 2009
Anak Perempuan Itu...
Sejak Desember 2008, saya tinggal di Bali untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris dibiayai oleh Dikti. Ada kejadian menarik yang saya alami, ketika sedang menunggu pesawat di bandara ngurah rai. Cerita ini mungkin tidak menarik untuk sebagian orang, tapi sangat menarik buat menambah kekayaan hidup yang saya punyai. Insya Allah.
Waktu menunggu pesawat yang akan membawa saya menuju Makassar saya gunakan untuk membaca buku Quantum Ihlas. Buku yang keliatan tipis tapi sarat dengan pesan-pesan kehidupan yang insya Allah bermanfaat. Di sela-sela bacaan, saya melihat seorang anak kecil (kira-kira berumur 2 - 3 tahun) sedang bermain-main dengan ayahnya. Yang membuat saya agak terkejut waktu itu ketika memperhatikan wajah anak perempuan tersebut. Wajah anak tersebut jauh dari sempurna. Bahkan untuk orang yang tidak terbiasa, mungkin agak merasa takut melihat wajah anak tersebut. Dalam hati saya berdoa, untuk tetap bisa berinteraksi dengan anak tersebut tanpa melihat kekurangannya.
Lanjut cerita, saya mengamati bagaimana anak tersebut bermain. Mungkin karena usia yang masih sangat muda, anak tersebut bermain tanpa beban dan berlari-lari mengelilingi deretan kursi yang saya duduki. Yang saya kagumi adalah ayahnya, yang tetap memperlakukan anak tersebut secara biasa-biasa saja tanpa mencoba menutupi kekurangan pada wajah anaknya. Yang paling menggembirakan saya lagi, ketika anak itu menghampiri saya dan mengajak saya bermain bersama. Beberapa kali dia mendatangi saya dan menyerahkan boneka kelincinya. Dia bahkan meminta ayahnya untuk membantunya duduk di samping saya.
Singkat cerita, sambil bermain dengan anak tersebut, saya berdoa dalam hati. Semoga orang-orang di sekitar anak itu tumbuh (termasuk saya) bisa menerima anak itu apa adanya dan tidak memberikan kontribusi yang negatif terhadap perkembangan mental anak tersebut. Semoga, seterusnya anak perempuan itu masih dapat bermain secara apa adanya sama seperti ketika saya melihatnya bermain di bandara ngurah rai, Bali.
Waktu menunggu pesawat yang akan membawa saya menuju Makassar saya gunakan untuk membaca buku Quantum Ihlas. Buku yang keliatan tipis tapi sarat dengan pesan-pesan kehidupan yang insya Allah bermanfaat. Di sela-sela bacaan, saya melihat seorang anak kecil (kira-kira berumur 2 - 3 tahun) sedang bermain-main dengan ayahnya. Yang membuat saya agak terkejut waktu itu ketika memperhatikan wajah anak perempuan tersebut. Wajah anak tersebut jauh dari sempurna. Bahkan untuk orang yang tidak terbiasa, mungkin agak merasa takut melihat wajah anak tersebut. Dalam hati saya berdoa, untuk tetap bisa berinteraksi dengan anak tersebut tanpa melihat kekurangannya.
Lanjut cerita, saya mengamati bagaimana anak tersebut bermain. Mungkin karena usia yang masih sangat muda, anak tersebut bermain tanpa beban dan berlari-lari mengelilingi deretan kursi yang saya duduki. Yang saya kagumi adalah ayahnya, yang tetap memperlakukan anak tersebut secara biasa-biasa saja tanpa mencoba menutupi kekurangan pada wajah anaknya. Yang paling menggembirakan saya lagi, ketika anak itu menghampiri saya dan mengajak saya bermain bersama. Beberapa kali dia mendatangi saya dan menyerahkan boneka kelincinya. Dia bahkan meminta ayahnya untuk membantunya duduk di samping saya.
Singkat cerita, sambil bermain dengan anak tersebut, saya berdoa dalam hati. Semoga orang-orang di sekitar anak itu tumbuh (termasuk saya) bisa menerima anak itu apa adanya dan tidak memberikan kontribusi yang negatif terhadap perkembangan mental anak tersebut. Semoga, seterusnya anak perempuan itu masih dapat bermain secara apa adanya sama seperti ketika saya melihatnya bermain di bandara ngurah rai, Bali.
Wednesday, October 08, 2008
Life Is All About Learning
Sumber belajar itu ada dimana-mana dan bisa ditemukan kapan saja. Bahkan kadang muncul dari pintu yang tidak terduga pada waktu yang tidak terduga pula. Yang diperlukan adalah ketulusan agar setiap hikmah dari setiap kejadian bisa kita ambil dan belajar dari hikmah tersebut. Selamat belajar!
Tuesday, July 29, 2008
Sekolah Berstandar Internasional (?)
Sekolah Berstandar Internasional. Sekarang ini rame-rame pendidikan di Indonesia baik itu jenjang SMA maupun pendidikan tinggi mulai menggunakan sistem bilingual dalam proses pembelajaran di kelas. Guru matematika, harus bisa mengajar dalam bahasa Inggris, demikian juga dengan mata pelajaran yang lain. Katanya ini dilakukan untuk menuju standar internasional. Di sisi lain, perguruan tinggi juga mulai membuka bilingual program. Dalam bilingual program ini, baik mahasiswa maupun dosen wajib menggunakan bahasa Inggris.
Yang menarik untuk dicermati adalah pemahaman tentang standar internasional itu sendiri. Jangan sampai, yang dimaksud dengan standar internasional hanya sebatas bahasa internasional yang digunakan, dalam hal ini Bahasa Inggris. Padahal, ketika kita bicara tentang sekolah, maka komponen-komponen dalam manajemen sekolah itulah yang harus menggunakan standar internasional, bukan sekedar bahasanya. Komponen-komponen manajemen sekolah yang dimaksud adalah kurikulum (terutama), sarana dan prasasrana, keuangan, kesiswaan, ketenagaan, humas dan layanan khusus. Jangan sampai, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris, tetapi kurikulumnya adalah kurikulum yang biasa-biasa saja, bahkan tidak sesuai dengan standar nasional. Adalah perlu untuk mendefinisikan kembali, apa yang dimaksud dengan sekolah berstandar internasional atau yang biasa disingkat SBI.
Yang menarik untuk dicermati adalah pemahaman tentang standar internasional itu sendiri. Jangan sampai, yang dimaksud dengan standar internasional hanya sebatas bahasa internasional yang digunakan, dalam hal ini Bahasa Inggris. Padahal, ketika kita bicara tentang sekolah, maka komponen-komponen dalam manajemen sekolah itulah yang harus menggunakan standar internasional, bukan sekedar bahasanya. Komponen-komponen manajemen sekolah yang dimaksud adalah kurikulum (terutama), sarana dan prasasrana, keuangan, kesiswaan, ketenagaan, humas dan layanan khusus. Jangan sampai, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris, tetapi kurikulumnya adalah kurikulum yang biasa-biasa saja, bahkan tidak sesuai dengan standar nasional. Adalah perlu untuk mendefinisikan kembali, apa yang dimaksud dengan sekolah berstandar internasional atau yang biasa disingkat SBI.
Wednesday, September 26, 2007
Kesetaraan Gender...
Baru-baru ini saya membaca tulisan salah seorang teman tentang kesetaraan jender. Tulisannya mengingatkan saya tentang pelatihan yang pernah saya ikuti mengenai gender. Bulan Maret lalu, alhamdulillah saya dapat peluang untuk mengikut pelatihan tentang Gender and Economic Policy Analysis di Institute of Social Studies.
Pada awalnya saya tidak begitu tertarik untuk mempelajari ataupun berdiskusi tentang gender. Entah kenapa, saya merasa cukup banyak orang-orang yang menyuarakan tentang kesetaraan gender tetapi tidak betul-betul menyuarakan kebutuhan perempuan (terlalu subjektif kali ya...). Ada kekhawatiran kegiatan pemberdayaan pemberdayaan perempuan akhirnya akan lebih mengarah kepada penguatan peran perempuan yang semakin terpinggirkan. Selain itu, berbicara soal gender, tidak sepenuhnya soal perempuan, melainkan juga soal laki-laki. Ketidakadilan bukan persoalan perempuan saja, tetapi juga persoalan laki-laki, karena kesetaraan gender bukan soal kesetaraan perempuan saja tetapi juga laki-laki.
Pada awalnya saya tidak begitu tertarik untuk mempelajari ataupun berdiskusi tentang gender. Entah kenapa, saya merasa cukup banyak orang-orang yang menyuarakan tentang kesetaraan gender tetapi tidak betul-betul menyuarakan kebutuhan perempuan (terlalu subjektif kali ya...). Ada kekhawatiran kegiatan pemberdayaan pemberdayaan perempuan akhirnya akan lebih mengarah kepada penguatan peran perempuan yang semakin terpinggirkan. Selain itu, berbicara soal gender, tidak sepenuhnya soal perempuan, melainkan juga soal laki-laki. Ketidakadilan bukan persoalan perempuan saja, tetapi juga persoalan laki-laki, karena kesetaraan gender bukan soal kesetaraan perempuan saja tetapi juga laki-laki.
Waktu Yang Terbuang
Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Kehabisan ide?? Rasanya tidak juga, cuman mood untuk menulis yang memang agak hilang belakangan ini. Mau bilang tidak punya waktu untuk menulis, kok rasanya ndak cocok ya. Perasaan orang lain jauh lebih sibuk dibanding saya tapi masih punya waktu untuk menulis...
Bicara soal waktu, saya teringat akan pertemuan dengan salah seorang rekan dosen di kampus. Beliau mengatakan begitu banyak hal yang telah dicoba untuk dilakukan dalam rangka perubahan, namun hasilnya tetap begitu-begitu saja. Waktu itu secara spontan saya bilang "kita butuh waktu". Dengan serta merta teman tadi langsung berkata, "... tapi sejak 10 tahun lalu kita sudah mengatakan hal tersebut... - butuh waktu", dan hasilnya sampai sekarang tetap saja tidak ada perubahan. Beliau kemudian menambahkan, jangan sampai, kita selalu mengatakan butuh waktu, tapi sebenarnya yang terjadi adalah kita membuang-buang waktu... Jika sudah tidak ada lagi yang dapat disalahkan, maka waktu adalah hal terbaik yang bisa dijadikan "korban" karena waktu tidak dapat berbicara
Bicara soal waktu, saya teringat akan pertemuan dengan salah seorang rekan dosen di kampus. Beliau mengatakan begitu banyak hal yang telah dicoba untuk dilakukan dalam rangka perubahan, namun hasilnya tetap begitu-begitu saja. Waktu itu secara spontan saya bilang "kita butuh waktu". Dengan serta merta teman tadi langsung berkata, "... tapi sejak 10 tahun lalu kita sudah mengatakan hal tersebut... - butuh waktu", dan hasilnya sampai sekarang tetap saja tidak ada perubahan. Beliau kemudian menambahkan, jangan sampai, kita selalu mengatakan butuh waktu, tapi sebenarnya yang terjadi adalah kita membuang-buang waktu... Jika sudah tidak ada lagi yang dapat disalahkan, maka waktu adalah hal terbaik yang bisa dijadikan "korban" karena waktu tidak dapat berbicara
Monday, July 17, 2006
Ramai-ramai menggugat UAN
Hasil Ujian Akhir Nasional menuai kritik dari berbagai kalangan. Mulai dari siswa yang tidak lulus, orang tua siswa, dan lain-lain. Tingginya angka ketidaklulusan yang terjadi di beberapa sekolah membuat orang ramai-ramai meminta pemerintah untuk mengkaji kembali kebijakan Ujian Akhir Nasional. Bahkan ada yang langsung meminta untuk menghapus UAN dengan alasan UAN tidak menggambarkan hasil proses belajar selama beberapa tahun dan diskriminatif terhadap beberapa siswa yang tergolong cerdas di kelas tapi akhirnya tidak lulus.
Untuk mengkaji kembali kebijakan UAN menurut saya adalah hal penting yang perlu untuk dilakukan dalam rangka membuat standar dan pemetaan yang jelas tentang kualitas pendidikan kita. Seharusnya, hasil UAN ini dapat dijadikan acuan untuk mengevaluasi kembali proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Apakah guru benar-benar telah mengajar dan membuka peluang bagi siswa untuk benar-benar belajar. Banyak hal yang bisa dievaluasi berdasarkan hasil UAN ini, bukannya malah langsung meminta agar UAN dihapuskan. Jika tidak ada UAN, maka standar apa yang akan kita gunakan untuk mengukur kualitas pendidikan di suatu sekolah? Mungkin ada alternatif lain, tapi dengan serta merta meminta agar UAN dihapuskan karena banyaknya siswa yang tidak lulus, saya kira permintaan yang terlalu emosional.
Untuk mengkaji kembali kebijakan UAN menurut saya adalah hal penting yang perlu untuk dilakukan dalam rangka membuat standar dan pemetaan yang jelas tentang kualitas pendidikan kita. Seharusnya, hasil UAN ini dapat dijadikan acuan untuk mengevaluasi kembali proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Apakah guru benar-benar telah mengajar dan membuka peluang bagi siswa untuk benar-benar belajar. Banyak hal yang bisa dievaluasi berdasarkan hasil UAN ini, bukannya malah langsung meminta agar UAN dihapuskan. Jika tidak ada UAN, maka standar apa yang akan kita gunakan untuk mengukur kualitas pendidikan di suatu sekolah? Mungkin ada alternatif lain, tapi dengan serta merta meminta agar UAN dihapuskan karena banyaknya siswa yang tidak lulus, saya kira permintaan yang terlalu emosional.
Tuesday, November 15, 2005
"POLRI" dan "TNI"
Anda mungkin pernah bahkan beberapa kali menonton berita seperti yang saya tuliskan ini di televisi. Pada beberapa kejadian penipuan, ada-ada saja anggota masyarakat yang melakukan penipuan dengan mengaku sebagai anggota POLRI atau TNI dan meminta uang dari masyarakat. Modus penipuannya pun sederhana, cukup dengan memakai seragam POLRI atau TNI dan mereka merasa punya modal untuk “meminta uang” dari masyarakat setempat.
Sebenarnya kegiatan penipuan adalah hal yang biasa terjadi di negeri ini. Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa beberapa penipu itu justru memilih untuk menjadi anggota POLRI atau TNI jadi-jadian. Ada apa dengan kedua abdi negara ini sampai bisa memberikan inspirasi kepada para “pencari uang” untuk menggunakan seragam mereka. Mungkin patut untuk dicermati :)
Sebenarnya kegiatan penipuan adalah hal yang biasa terjadi di negeri ini. Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa beberapa penipu itu justru memilih untuk menjadi anggota POLRI atau TNI jadi-jadian. Ada apa dengan kedua abdi negara ini sampai bisa memberikan inspirasi kepada para “pencari uang” untuk menggunakan seragam mereka. Mungkin patut untuk dicermati :)
Beginilah Kita...
Di suatu tempat di negeri ini terjadi perkelahian massal antara dua kampung. Penyebabnya keliatan sepele, beberapa pemuda yang sedang berkumpul di kampung yang dikunjungi tidak menjawab sapaan dua pemuda tamu dari kampung sebelah. Akibatnya kedua pemuda tadi merasa tidak dihargai dan menceritakan kejadian tersebut kepada teman-temanya. Karena merasa “dilecehkan” terjadilah penyerbuan dan perkelahian massal tidak dapat dihindarkan....
Di suatu kampus di negeri ini, terjadi perkelahian massal antara mahasiswa. Penyebabnya sendiri “kurang jelas”. Tapi satu hal yang tampak adalah adanya arogansi mahasiswa terhadap jurusan dan fakultasnya masing-masing. Entah apa yang memicu perkelahian itu, tapi tampaknya mahasiswa yang diharapkan menjadi pemimpin di masa depan tidak mampu menggunakan logika sehat dan benar untuk melihat persoalan yang ada. Perkelahian terjadi, dan yang paling ironis mahasiswa sanggup membakar sendiri kampusnya, tempat yang seharusnya menjadi “rumah” tempat mereka menuntut ilmu....
Di suatu ruang sidang di negeri ini pernah juga terjadi “perkelahian” antara anggota dewan kita yang terhormat. Entah permasalahannya apa, dijelaskan sedetail apa pun mungkin tidak akan mampu membenarkan tindakan “kekerasan” di dalam ruang sidang yang katanya sakral itu, karena di tempat itulah keputusan-keputusan penting menyangkut di negeri ini diambil....
Di pojok lain... rakyat, para tukang becak, para pedagang kecil, guru, menjadi “penonton” atas apa yang terjadi di tiga tempat tadi. Ada yang tertawa, ada yang geleng-geleng kepala, ada yang marah, dan ada yang tidak peduli sama sekali. Yaaahh.....Beginilah Kita......
Di suatu kampus di negeri ini, terjadi perkelahian massal antara mahasiswa. Penyebabnya sendiri “kurang jelas”. Tapi satu hal yang tampak adalah adanya arogansi mahasiswa terhadap jurusan dan fakultasnya masing-masing. Entah apa yang memicu perkelahian itu, tapi tampaknya mahasiswa yang diharapkan menjadi pemimpin di masa depan tidak mampu menggunakan logika sehat dan benar untuk melihat persoalan yang ada. Perkelahian terjadi, dan yang paling ironis mahasiswa sanggup membakar sendiri kampusnya, tempat yang seharusnya menjadi “rumah” tempat mereka menuntut ilmu....
Di suatu ruang sidang di negeri ini pernah juga terjadi “perkelahian” antara anggota dewan kita yang terhormat. Entah permasalahannya apa, dijelaskan sedetail apa pun mungkin tidak akan mampu membenarkan tindakan “kekerasan” di dalam ruang sidang yang katanya sakral itu, karena di tempat itulah keputusan-keputusan penting menyangkut di negeri ini diambil....
Di pojok lain... rakyat, para tukang becak, para pedagang kecil, guru, menjadi “penonton” atas apa yang terjadi di tiga tempat tadi. Ada yang tertawa, ada yang geleng-geleng kepala, ada yang marah, dan ada yang tidak peduli sama sekali. Yaaahh.....Beginilah Kita......
Wednesday, February 16, 2005
BELAJAR DARI TKI
Berita tentang pemulangan TKI illegal dari Malaysia sekarang sedang marak-maraknya di berbagai media massa. Pemulangan missal ini cukup menarik perhatian, karena beberapa TKI tersebut memutuskan untuk tetap tinggal di Malaysia, dan ada juga yang berencana untuk pulang kembali ke Malaysia. Alasannya sederhana saja: UANG. Menurut mereka, dengan kembali ke Indonesia, mereka akan kehilangan mata pencaharian untuk menghidupi keluarga mereka. Sedangkan untuk mencari pekerjaan baru akan sangat sulit, sehingga mereka lebih memilih untuk tetap mengadu nasib di negeri jiran tersebut.
Ada satu hal yang membuat saya sangat kagum dengan para TKI kita ini. Meskipun tanpa keahlian yang memadai, mereka berani mengadu nasib ke negeri orang. Hanya dengan bekal KEBERANIAN dan KEINGINAN KUAT untuk dapat hidup lebih layak, mereka berani MENGAMBIL RESIKO untuk pergi jauh meninggalkan orang tua dan sanak saudara tercinta. Uang memang selalu menjadi motivator yang sangat kuat dan berpengaruh pada setiap keputusan yang diambil oleh seseorang. Jika kita menalar dengan “akal sehat”, orang-orang dengan tingkat pendidikan yang relatif lebih baik, belum tentu berani mengambil keputusan seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara kita yang menjadi TKI. Hanya dengan tingkat pendidikan yg bisa dikatakan rendah, mereka memiliki motivasi untuk berdiri di kaki mereka sendiri dan berharap mampu menghidupi, bukan hanya diri mereka sendiri melainkan juga keluarga mereka. Pengalaman hidup mungkin telah mengajarkan mereka untuk berani mengambil resiko hidup di negeri orang.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah, para TKI yang notabene adalah saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air secara tidak langsung sebenarnya sudah meringankan beban pemerintah dalam hal mengatasi tingginya tingkat pengangguran di negeri kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang semakin sulit mencari pekerjaan. Pemerintah juga punya keterbatasan untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang dapat menampung tenaga kerja yang tersedia di Indonesia. Para TKI kita saya yakin pada awalnya tidak berniat merepotkan pemerintahan kita. Mereka pergi mengadu nasib ke negeri orang karena menganggap peluang di negeri jiran lebih menjanjikan dibandingkan dengan peluang di negeri sendiri. Pemerintah mungkin harus berterima kasih kepada para TKI kita yang memilih untuk bekerja di luar negeri tanpa harus merepotkan pemerintah untuk menyediakan pekerjaan buat mereka. Penghasilan yang mereka dapatkan dengan bekerja sebagai TKI, sebagian dapat dikirimkan ke keluarga mereka di Indonesia yang tentu dapat meningkatkan taraf hidup keluarga mereka, yang secara tidak langsung membantu keluarga mereka yang mungkin hidup pas-pasan.
Persoalan legal dan illegal menjadi tugas pemerintah untuk memberikan jaminan keamanan dan kepastian hukum kepada para TKI kita. Kontrol yang kuat dan sistematis dari pemerintah kita sangat diharapkan agar perisitwa pemulangan massal yang terjadi sekarang ini tidak terulang lagi. Perbaikan sistem data base warga negara kita yang bekerja di luar negeri adalah hal penting yang mesti dibenahi secepatnya. Selain itu pembekalan pengetahuan bagi para TKI terutama mengenai hak dan kewajiban mereka selama bekerja di luar negeri perlu diberikan, agar TKI kita mengerti akan hak dan kewajiban mereka. Saya kadang bertanya-tanya, apakah saya mempunyai keberanian seperti TKI itu...
Ada satu hal yang membuat saya sangat kagum dengan para TKI kita ini. Meskipun tanpa keahlian yang memadai, mereka berani mengadu nasib ke negeri orang. Hanya dengan bekal KEBERANIAN dan KEINGINAN KUAT untuk dapat hidup lebih layak, mereka berani MENGAMBIL RESIKO untuk pergi jauh meninggalkan orang tua dan sanak saudara tercinta. Uang memang selalu menjadi motivator yang sangat kuat dan berpengaruh pada setiap keputusan yang diambil oleh seseorang. Jika kita menalar dengan “akal sehat”, orang-orang dengan tingkat pendidikan yang relatif lebih baik, belum tentu berani mengambil keputusan seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara kita yang menjadi TKI. Hanya dengan tingkat pendidikan yg bisa dikatakan rendah, mereka memiliki motivasi untuk berdiri di kaki mereka sendiri dan berharap mampu menghidupi, bukan hanya diri mereka sendiri melainkan juga keluarga mereka. Pengalaman hidup mungkin telah mengajarkan mereka untuk berani mengambil resiko hidup di negeri orang.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah, para TKI yang notabene adalah saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air secara tidak langsung sebenarnya sudah meringankan beban pemerintah dalam hal mengatasi tingginya tingkat pengangguran di negeri kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang semakin sulit mencari pekerjaan. Pemerintah juga punya keterbatasan untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang dapat menampung tenaga kerja yang tersedia di Indonesia. Para TKI kita saya yakin pada awalnya tidak berniat merepotkan pemerintahan kita. Mereka pergi mengadu nasib ke negeri orang karena menganggap peluang di negeri jiran lebih menjanjikan dibandingkan dengan peluang di negeri sendiri. Pemerintah mungkin harus berterima kasih kepada para TKI kita yang memilih untuk bekerja di luar negeri tanpa harus merepotkan pemerintah untuk menyediakan pekerjaan buat mereka. Penghasilan yang mereka dapatkan dengan bekerja sebagai TKI, sebagian dapat dikirimkan ke keluarga mereka di Indonesia yang tentu dapat meningkatkan taraf hidup keluarga mereka, yang secara tidak langsung membantu keluarga mereka yang mungkin hidup pas-pasan.
Persoalan legal dan illegal menjadi tugas pemerintah untuk memberikan jaminan keamanan dan kepastian hukum kepada para TKI kita. Kontrol yang kuat dan sistematis dari pemerintah kita sangat diharapkan agar perisitwa pemulangan massal yang terjadi sekarang ini tidak terulang lagi. Perbaikan sistem data base warga negara kita yang bekerja di luar negeri adalah hal penting yang mesti dibenahi secepatnya. Selain itu pembekalan pengetahuan bagi para TKI terutama mengenai hak dan kewajiban mereka selama bekerja di luar negeri perlu diberikan, agar TKI kita mengerti akan hak dan kewajiban mereka. Saya kadang bertanya-tanya, apakah saya mempunyai keberanian seperti TKI itu...
Sunday, January 16, 2005
Obrolan di Angkot
Kemarin sore sehabis melakukan wawancara dengan salah seorang kandidat kami yang akan diberangkatkan ke Amerika dalam rangka mengikuti program YES yang diselenggarakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya Indonesia, berdua dengan teman saya, kami melakukan diskusi ringan di atas angkot yang membawa kami pulang. Sudah sepuluh tahun lebih kami berdua menjadi sukarelawan di yayasan ini yang bergerak di bidang pertukaran pelajar untuk siswa-siswa SMA.
Kembali ke diskusi ringan yang kami lakukan sambil ketawa ketiwi itu. Kami berdua baru saja diterima sebagai CPNS. Teman saya itu diterima di lingkungan pemerintah kota, dan saya di salah satu universitas negeri. Mengingat latar belakang kami sebelumnya yang pernah bekerja di swasta, teman saya yang sudah mulai masuk kerja mencoba membanding-bandingkan kondisi kerja sekarang dengan yang sebelumnya.
Sambil ketawa dan sedikit komplain teman saya bercerita mengenai pengalamannya selama seminggu kerja. Karena masih baru, selama seminggu masuk kantor dia belum mengerjakan apa-apa. Jadi dia hanya datang, duduk, dan sedikit cerita-cerita mengenai kondisi kantor dengan pegawai senior. Teman saya sempat terheran-heran dengan adanya televisi di ruang kerja para pegawai. Selama jam kerja, televisi akan terus dinyalakan mulai dari acara-acara musik sampai ke sinetron-sinetron yang ceritanya kadang agak menjual mimpi juga. Hal yang amat tidak biasa buatnya. Bikin puyeng katanya.
Cerita berlanjut mengenai dana pengadaan yang hanya sekitar enam juta dalam setahun. Teman saya mengeluhkan mengenai draft pembuatan laporan yang harus menggunakan tulisan tangan. Komputer hanya digunakan jika laporan telah dianggap OK oleh pimpinan. Jadi selama pembuatan draft dan proses pemeriksaan semua dilakukan dengan manual, bukan dengan mesin ketik tetapi dengan tulisan tangan! Sekali lagi kami terheran-heran tapi tetap diikuti dengan tawa lepas. Entah itu ketawa senang, menertawai atau ketawa yang memaklumi...
Selanjutnya saya mengemukakan mengenai ide untuk proposal penelitian saya yang akan fokus ke guru. Setelah sedikit memberikan gambaran, teman saya mengingatkan saya untuk berhati-hati dengan ide saya. Alasannya, akan selalu muncul alasan klasik, mengapa guru tidak bisa berperan optimal, karena gaji guru yang rendah. Sambil terkekeh-kekeh saya cuma bilang, wong dari dulu kan, sejak kita masih kecil, gaji guru katanya memang kecil. Sudah tahu kecil kok masih mau jadi guru? Kalo mau punya duit banyak yaaa jangan jadi guru dongg.....
Teman saya ikut ketawa sambil menimpali, makanya yang mau jadi guru itu rata-rata bukan orang kota. Lantas orang dari mana dong??:D) Selain itu, alasan orang menjadi guru, katanya bukan karena pilihan, melainkan karena tidak adanya pilihan lain. Mau masuk ke sektor lain, tidak mampu bersaing... Betul juga kali ya?? Sekali lagi kami tertawa...
Masih dalam suasana santai di dalam angkot, kami kembali membahas mengenai ungkapan klasik “gaji pegawai negeri kecil”.Sambil sedikit menyindir kami berdua mempertanyakan, kalo memang merasa gaji pegawai negeri kecil, kenapa tidak berhenti saja menjadi pegawai negeri dan mencari kerjaan lain yang bisa menghasilkan uang banyak? Seperti pegawai-pegawi swasta yang jika sudah bosan kerja di suatu tempat, atau gaji dianggap tidak sesuai, mereka akan berhenti dan berusaha mencari kerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan. Mungkin memang ada kasus seperti ini yang terjadi di pegawai negeri tapi tidak terangkat ke permukaan. Yang paling sering diangkat adalah rendahnya gaji pegawai negeri sehingga muncul image jika anda menjadi pegawai negeri maka bersiap-siaplan untuk hidup pas-pasan, terutama guru. Terlalu subjektif memang.....
Angkot yang membawa kami sudah hampir sampai di tujuan. Saya harus turun duluan karena rumah saya memang lebih dulu dilalui. Perbincangan dengan teman saya itu membuat saya tersenyum-senyum sendiri jika mengingatnya. Menarik karena kami berdua masih sama-sama baru memasuki dunia kerja yang katanya membosankan dan kadang diselingi dengan kejadian-kejadian mungkin dianggap tidak masuk akal. Betulkah demikian? Kita lihat saja. Teman saya cuma berharap agar kami tidak larut dalam kondisi yang dapat mengubah sudut pandang kami menjadi sempit dan menjadi terbiasa dengan hal-hal yang tadinya kami anggap tidak wajar menjadi wajar.
Kembali ke diskusi ringan yang kami lakukan sambil ketawa ketiwi itu. Kami berdua baru saja diterima sebagai CPNS. Teman saya itu diterima di lingkungan pemerintah kota, dan saya di salah satu universitas negeri. Mengingat latar belakang kami sebelumnya yang pernah bekerja di swasta, teman saya yang sudah mulai masuk kerja mencoba membanding-bandingkan kondisi kerja sekarang dengan yang sebelumnya.
Sambil ketawa dan sedikit komplain teman saya bercerita mengenai pengalamannya selama seminggu kerja. Karena masih baru, selama seminggu masuk kantor dia belum mengerjakan apa-apa. Jadi dia hanya datang, duduk, dan sedikit cerita-cerita mengenai kondisi kantor dengan pegawai senior. Teman saya sempat terheran-heran dengan adanya televisi di ruang kerja para pegawai. Selama jam kerja, televisi akan terus dinyalakan mulai dari acara-acara musik sampai ke sinetron-sinetron yang ceritanya kadang agak menjual mimpi juga. Hal yang amat tidak biasa buatnya. Bikin puyeng katanya.
Cerita berlanjut mengenai dana pengadaan yang hanya sekitar enam juta dalam setahun. Teman saya mengeluhkan mengenai draft pembuatan laporan yang harus menggunakan tulisan tangan. Komputer hanya digunakan jika laporan telah dianggap OK oleh pimpinan. Jadi selama pembuatan draft dan proses pemeriksaan semua dilakukan dengan manual, bukan dengan mesin ketik tetapi dengan tulisan tangan! Sekali lagi kami terheran-heran tapi tetap diikuti dengan tawa lepas. Entah itu ketawa senang, menertawai atau ketawa yang memaklumi...
Selanjutnya saya mengemukakan mengenai ide untuk proposal penelitian saya yang akan fokus ke guru. Setelah sedikit memberikan gambaran, teman saya mengingatkan saya untuk berhati-hati dengan ide saya. Alasannya, akan selalu muncul alasan klasik, mengapa guru tidak bisa berperan optimal, karena gaji guru yang rendah. Sambil terkekeh-kekeh saya cuma bilang, wong dari dulu kan, sejak kita masih kecil, gaji guru katanya memang kecil. Sudah tahu kecil kok masih mau jadi guru? Kalo mau punya duit banyak yaaa jangan jadi guru dongg.....
Teman saya ikut ketawa sambil menimpali, makanya yang mau jadi guru itu rata-rata bukan orang kota. Lantas orang dari mana dong??:D) Selain itu, alasan orang menjadi guru, katanya bukan karena pilihan, melainkan karena tidak adanya pilihan lain. Mau masuk ke sektor lain, tidak mampu bersaing... Betul juga kali ya?? Sekali lagi kami tertawa...
Masih dalam suasana santai di dalam angkot, kami kembali membahas mengenai ungkapan klasik “gaji pegawai negeri kecil”.Sambil sedikit menyindir kami berdua mempertanyakan, kalo memang merasa gaji pegawai negeri kecil, kenapa tidak berhenti saja menjadi pegawai negeri dan mencari kerjaan lain yang bisa menghasilkan uang banyak? Seperti pegawai-pegawi swasta yang jika sudah bosan kerja di suatu tempat, atau gaji dianggap tidak sesuai, mereka akan berhenti dan berusaha mencari kerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan. Mungkin memang ada kasus seperti ini yang terjadi di pegawai negeri tapi tidak terangkat ke permukaan. Yang paling sering diangkat adalah rendahnya gaji pegawai negeri sehingga muncul image jika anda menjadi pegawai negeri maka bersiap-siaplan untuk hidup pas-pasan, terutama guru. Terlalu subjektif memang.....
Angkot yang membawa kami sudah hampir sampai di tujuan. Saya harus turun duluan karena rumah saya memang lebih dulu dilalui. Perbincangan dengan teman saya itu membuat saya tersenyum-senyum sendiri jika mengingatnya. Menarik karena kami berdua masih sama-sama baru memasuki dunia kerja yang katanya membosankan dan kadang diselingi dengan kejadian-kejadian mungkin dianggap tidak masuk akal. Betulkah demikian? Kita lihat saja. Teman saya cuma berharap agar kami tidak larut dalam kondisi yang dapat mengubah sudut pandang kami menjadi sempit dan menjadi terbiasa dengan hal-hal yang tadinya kami anggap tidak wajar menjadi wajar.
Uji Kompetensi Guru
“Menteri Pendidikan Nasional mengatakan bahwa dalam upaya peningkatan mutu, kompetensi, jumlah dan kesejahteraan guru, dilakukan uki kompetensi dan sertifikasi guru yang terkareditasi. Setiap guru akan diberikan kesempatan sebanyak tiga kali uji kompetensi secara berturut-turut. Jika tidak lulus, maka guru tersebut tidak berhak mengajar khususnya untuk mata pelajaran pokok” (Republika, 10 Des 2004).
Guru adalah front liner kita dalam proses belajar mengajar. Karena guru lah yang berinteraksi langsung dengan siswa di dalam kelas. Gurulah yang memegang peranan yang sangat penting dalam membuat siswa mengerti dan paham mengenai mata pelajaran yang diajarkan. Sekolah sebagai institusi pendidikan membutuhkan guru yang tidak hanya berfungsi sebagai pengajar yang mengajarkan mata pelajaran tertentu kepada peserta didiknya tetapi juga sebagai pendidik yang memberikan bekal pengetahuan kepada siswanya mengenai etika, kemampuan untuk survive dalam hidup, moral, empati, dan sebagainya.
Uji kompetensi guru yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana guru menjalankan perannya sebagai pengajar sekaligus pendidik adalah salah satu faktor penting yang perlu dilakukan. Namun hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah sejauh mana hasil uji komptensi ini akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap proses belajar mengajar di sekolah serta output yang dihasilkan, dalam hal ini peningkatan kualitas kemampuan siswa dalam mata pelajaran yang diajarkan. Apakah siswa yang menjadi subjek utama dalam pendidikan dapat merasakan langsung pengaruh dari hasil uji kompetensi tersebut atau tidak.
Jika uji kompetensi dilakukan untuk mengetahui kemampuan guru yang bersangkutan, maka saya kira hasil uji kompetensi tersebut tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan jika tidak diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang terjadi di dalam ruang kelas sebagai tempat terjadinya proses belajar mengajar. Terlebih lagi, kebanyakan evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi pada saat suatu proses belajar mengajar telah selesai. Misalnya, jumlah siswa yang lulus ujian, nilai kelulusan siswa, siswa yang berhasil lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi, dan sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa evaluasi tersebut adalah penting, namun dalam suatu proses belajar mengajar yang berlangsung terus menerus, adalah penting untuk melakukan evaluasi pada saat proses belajar mengajar masih berlangsung. Diharapkan melalui evaluasi tersebut, guru dapat menggunakan metode yang terbaik untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Siswa juga diharapkan dapat memberikan feedback positif kepada guru karena merekalah yang berinteraksi langsung dengan guru dan merasakan pengaruhnya terhadap kemampuan belajar mereka.
Mudah-mudahan niat baik pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas guru melalui uji kompetensi diikuti dengan pemantauan yang hati-hati dan terstruktur mengenai pengaruh dari hasil uji kompetensi ini terhadap proses belajar mengajar yang terjadi di lapangan, dalam rangka meningkatkan kualitas output dari proses pendidikan kita.
Guru adalah front liner kita dalam proses belajar mengajar. Karena guru lah yang berinteraksi langsung dengan siswa di dalam kelas. Gurulah yang memegang peranan yang sangat penting dalam membuat siswa mengerti dan paham mengenai mata pelajaran yang diajarkan. Sekolah sebagai institusi pendidikan membutuhkan guru yang tidak hanya berfungsi sebagai pengajar yang mengajarkan mata pelajaran tertentu kepada peserta didiknya tetapi juga sebagai pendidik yang memberikan bekal pengetahuan kepada siswanya mengenai etika, kemampuan untuk survive dalam hidup, moral, empati, dan sebagainya.
Uji kompetensi guru yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana guru menjalankan perannya sebagai pengajar sekaligus pendidik adalah salah satu faktor penting yang perlu dilakukan. Namun hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah sejauh mana hasil uji komptensi ini akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap proses belajar mengajar di sekolah serta output yang dihasilkan, dalam hal ini peningkatan kualitas kemampuan siswa dalam mata pelajaran yang diajarkan. Apakah siswa yang menjadi subjek utama dalam pendidikan dapat merasakan langsung pengaruh dari hasil uji kompetensi tersebut atau tidak.
Jika uji kompetensi dilakukan untuk mengetahui kemampuan guru yang bersangkutan, maka saya kira hasil uji kompetensi tersebut tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan jika tidak diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang terjadi di dalam ruang kelas sebagai tempat terjadinya proses belajar mengajar. Terlebih lagi, kebanyakan evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi pada saat suatu proses belajar mengajar telah selesai. Misalnya, jumlah siswa yang lulus ujian, nilai kelulusan siswa, siswa yang berhasil lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi, dan sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa evaluasi tersebut adalah penting, namun dalam suatu proses belajar mengajar yang berlangsung terus menerus, adalah penting untuk melakukan evaluasi pada saat proses belajar mengajar masih berlangsung. Diharapkan melalui evaluasi tersebut, guru dapat menggunakan metode yang terbaik untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Siswa juga diharapkan dapat memberikan feedback positif kepada guru karena merekalah yang berinteraksi langsung dengan guru dan merasakan pengaruhnya terhadap kemampuan belajar mereka.
Mudah-mudahan niat baik pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas guru melalui uji kompetensi diikuti dengan pemantauan yang hati-hati dan terstruktur mengenai pengaruh dari hasil uji kompetensi ini terhadap proses belajar mengajar yang terjadi di lapangan, dalam rangka meningkatkan kualitas output dari proses pendidikan kita.
Wednesday, January 12, 2005
Guru Sebagai Profesi dan Seleksi Penerimaan CPNS
Tulisan ini diilhami dari tulisan yang dimuat di rubrik pendidikan Harian Republika yang terbit pada hari Jumat 10 Desember 2004, mengenai guru sebagai profesi. Saya kutip dalam tulisan tersebut, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan hasil studi beberapa ahli mengenai karakteristik profesi guru yakni:
- memiliki kemampuan spesialisasi
- memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung oleh orang lain
- communicable atau memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan
- self-organization atau memiliki kapasitas mengorganisasikan kerja secara mandiri
- mementingkan kepentingan orang lain
- memiliki kode etik
- memiliki sanksi dan tanggung jawab komunitas
- mempunyai sistem upah dan budaya profesional
Meskipun masih memerlukan penjelasan yang lebih konkret mengenai karakteristik guru sebagai profesi tersebut, menarik untuk mengaitkannya dengan sistem penerimaan guru/dosen. Jika ingin guru/dosen memiliki karakteristik tersebut, maka seharusnya sistem penerimaan guru/dosen memasukkan point-point yang disebut sebagai karakteristik profesi guru tersebut, yang diramu dan dibuat sedemikian rupa dalam bentuk soal dan sistem seleksi yang memadai.
Jika kita melihat kembali soal-soal CPNS yang dilaksanakan serentak kemarin, soal-soal yang ditanyakan adalah seputar GBHN, Sejarah, Bahasa Indonesia, Matematika Dasar, Bahasa Inggris + uji kompetensi. Adalah perlu untuk direnungkan kembali apakah sistem seleksi dan materi-materi yang ditanyakan dalam soal-soal tersebut sudah cukup memadai untuk menilai apakah seseorang itu pantas untuk menjadi seorang guru atau tidak. Apakah setelah menjawab soal-soal tersebut di atas ditambah dengan uji kompetensi sudah memberikan gambaran mengenai kualitas dari orang yang mengikuti seleksi?
Suatu model seleksi seharusnya dibuat untuk mengenali kualitas orang-orang yang ikut seleksi. Potensi seseorang untuk menjadi guru/dosen saya percaya hanya akan dapat dilihat melalui sistem penyeleksian yang terstruktur dan terencana dengan baik, dengan mempertimbangkan point-point yang memang harus dimiliki oleh seseorang untuk menjad seorang guru/dosen. Nantinya diharapkan akan terjaring orang-orang yang memang memiliki potensi untuk menjadi seorang guru/dosen yang profesional(?).
- memiliki kemampuan spesialisasi
- memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung oleh orang lain
- communicable atau memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan
- self-organization atau memiliki kapasitas mengorganisasikan kerja secara mandiri
- mementingkan kepentingan orang lain
- memiliki kode etik
- memiliki sanksi dan tanggung jawab komunitas
- mempunyai sistem upah dan budaya profesional
Meskipun masih memerlukan penjelasan yang lebih konkret mengenai karakteristik guru sebagai profesi tersebut, menarik untuk mengaitkannya dengan sistem penerimaan guru/dosen. Jika ingin guru/dosen memiliki karakteristik tersebut, maka seharusnya sistem penerimaan guru/dosen memasukkan point-point yang disebut sebagai karakteristik profesi guru tersebut, yang diramu dan dibuat sedemikian rupa dalam bentuk soal dan sistem seleksi yang memadai.
Jika kita melihat kembali soal-soal CPNS yang dilaksanakan serentak kemarin, soal-soal yang ditanyakan adalah seputar GBHN, Sejarah, Bahasa Indonesia, Matematika Dasar, Bahasa Inggris + uji kompetensi. Adalah perlu untuk direnungkan kembali apakah sistem seleksi dan materi-materi yang ditanyakan dalam soal-soal tersebut sudah cukup memadai untuk menilai apakah seseorang itu pantas untuk menjadi seorang guru atau tidak. Apakah setelah menjawab soal-soal tersebut di atas ditambah dengan uji kompetensi sudah memberikan gambaran mengenai kualitas dari orang yang mengikuti seleksi?
Suatu model seleksi seharusnya dibuat untuk mengenali kualitas orang-orang yang ikut seleksi. Potensi seseorang untuk menjadi guru/dosen saya percaya hanya akan dapat dilihat melalui sistem penyeleksian yang terstruktur dan terencana dengan baik, dengan mempertimbangkan point-point yang memang harus dimiliki oleh seseorang untuk menjad seorang guru/dosen. Nantinya diharapkan akan terjaring orang-orang yang memang memiliki potensi untuk menjadi seorang guru/dosen yang profesional(?).
Saturday, November 06, 2004
Gonta ganti buku di tiap tahun ajaran baru
Pemerintahan baru Indonesia telah mengeluarkan kebijakan baru dalam pemakaian buku-buku pegangan untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah. Buku-buku pelajaran yang biasanya berganti tiap tahun ajaran, kini tidak akan terjadi lagi. Pemerintah telah menetapkan bahwa buku-buku pegangan untuk para siswa akan digunakan selama lima tahun. Dengan demikian, para siswa dapat mewariskan buku-bukunya kepada adik-adiknya kelak untuk digunakan kembali sampai lima tahun ke depan.
Kebijakan ini mengundang reaksi yang beragam. Orang tua murid tentu menyambut gembira kebijakan ini. Paling tidak beban biaya untuk membeli buku pelajaran tiap tahun dapat dikurangi. Bisa dibayangkan jika satu keluarga memiliki tiga orang anak pada tingkat jelas yang berbeda, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan setiap tahunnya.
Ikatan penerbit indonesia (IKAPI) memberikan tanggapan yang berbeda mengenai kebijakan ini. Dengan alasan bahwa pendidikan selalu mengalami perubahan baik dari segi teknologi, metode mengajar, kurikulum, dan seterusnya, maka wajar lah setiap tahun buku itu mengalami perubahan, untuk meng-update pendidikan kita mengkuti perkembangan yang ada. Dengan adanya kebijakan pemakaian buku sampai lima tahun, dikhawatirkan tidak akan sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sektor pendidikan itu sendiri.
Di sisi lain, guru juga memberikan tanggapan yang berbeda. Di salah satu surat pembaca di surat kabar nasional, seorang guru menceritakan bahwa selama ini ia menggunakan buku yang ia rancang sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan muridnya, karena gurulah yang paling mengerti apa yang dibutuhkan oleh muridnya. Selain itu, ia mengatakan bahwa dengan membuat buku sendiri akan memberikan masukan tambahan bagi guru, mengingat gaji guru yang relatif kecil. Untuk itu ia meminta kepada pemerintah, supaya guru diizinkan untuk membuat buku sendiri, dan juga meminta agar supaya buku-buku yang berasal dari penerbit dijual melalui guru, jika ada yang terjual maka guru berhak mendapat sekian persen dari harga penjualan. Hal ini sekali lagi untuk membantu guru mencari penghasilan tambahan.
Menarik untuk menyimak beragam reaksi dari orang tua murid, guru, dan penerbit. Orang tua tentu saja senang, karena mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membeli buku. Yang menarik perhatian saya adalah reaksi dari IKAPI dan salah seorang guru tadi (tentu tidak semua guru bereaksi seperti ini).
Adalah betul apa yang dikatakan IKAPI bahwa pendidikan akan selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan yang ada. Yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana perkembangan yang ada memberikan pengaruh terhadap pendidikan dasar dan menengah. Kalau pendidikan tinggi dimana kompetensi dari tamatannya sangat dibutuhkan untuk bisa bersaing di dunia kerja, adalah mutlak untuk menyediakan kurikulum yang dinamis. Itu pun hanya untuk mata kuliah tertentu, tidak untuk pengetahuan-pengetahuan dasar. Sementara di pendidikan dasar dan menengah yang diperlukan adalah penanaman hal-hal yang mendasar dari suatu ilmu. Jadi, kalau dikatakan bahwa pemakaian buku selama lima tahun dikhawatirkan tidak akan sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sektor pendidikan itu sendiri, rasanya kurang tepat. Karena dari tahun ke tahun, sesuatu yang menjadi dasar akan sulit mengalamai perubahan, atau kalaupun ada, paling juga sedikit.
Yang mungkin perlu digaris bawahi adalah sejauh mana peran guru untuk memahami perubahan-perubahan yang ada. Guru, sebagai salah satu komponen utama dalam suatu sistem pendidikan yang berinteraksi langsung dengan para siswa tentu diharapkan mampu untuk memberikan pengetahuan yang di satu sisi dengan kemampuan siswa itu sendiri tapi juga sejalan dengan perkembangan yang ada.
Jika kita melihat kembali ke muatan pendidikan dasar dan menengah, adakah muatan-muatan pada tingkat pendidikan ini mengalami perubahan yang dinamis setiap tahun? Menurut saya tidak. Justru yang lebih penting adalah bagaimana guru bisa menemukan metode mengajar yang sesuai agar murid bisa menangkap intisari dari mata pelajaran yang diberikan.
Tanggapan dari salah seorang guru untuk bisa membuat buku sendiri menarik untuk dicermati, mengingat guru lah yang paling mengerti keadaan muridnya. Hemat saya, memang sudah tugas guru untuk bisa mencari alternatif yang terbaik untuk kepentingan murid-muridnya. Jika guru diberikan wewenang untuk membuat buku sendiri, yang dikhawatirkan adalah munculnya konflik kepentingan, karena bisa saja masing-masing guru menganggap bahwa bukunya lah yang paling bagus. Bisa dibayangkan, ganti guru, ganti buku.
Buku adalah salah satu alat bantu yang dapat digunakan oleh guru dan siswa. Yang mungkin lebih penting untuk dicermati adalah bagaimana guru bisa mencari metode yang tepat agar siswa dapat memahami dan menangkap intisari dari setiap mata pelajaran yang diberikan. Kebijakan pemerintah untuk tidak mengganti buku dalam jangka waktu lima tahun untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah menurut saya tidak bertentangan dengan misi pendidikan kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah adalah tempat dimana semua orang harus belajar, bukan hanya siswa, tapi juga guru dan para staff. Tugas guru adalah belajar meningkatkan ilmunya dan kemampuan mengajarnya. Jangan sampai, dengan buku yang sama, guru juga menggunakan metode mengajar yang sama selama lima tahun, padahal siswa yang dihadapi berbeda.
“Teaching is a work of heart...” (no name, 2002)
Kebijakan ini mengundang reaksi yang beragam. Orang tua murid tentu menyambut gembira kebijakan ini. Paling tidak beban biaya untuk membeli buku pelajaran tiap tahun dapat dikurangi. Bisa dibayangkan jika satu keluarga memiliki tiga orang anak pada tingkat jelas yang berbeda, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan setiap tahunnya.
Ikatan penerbit indonesia (IKAPI) memberikan tanggapan yang berbeda mengenai kebijakan ini. Dengan alasan bahwa pendidikan selalu mengalami perubahan baik dari segi teknologi, metode mengajar, kurikulum, dan seterusnya, maka wajar lah setiap tahun buku itu mengalami perubahan, untuk meng-update pendidikan kita mengkuti perkembangan yang ada. Dengan adanya kebijakan pemakaian buku sampai lima tahun, dikhawatirkan tidak akan sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sektor pendidikan itu sendiri.
Di sisi lain, guru juga memberikan tanggapan yang berbeda. Di salah satu surat pembaca di surat kabar nasional, seorang guru menceritakan bahwa selama ini ia menggunakan buku yang ia rancang sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan muridnya, karena gurulah yang paling mengerti apa yang dibutuhkan oleh muridnya. Selain itu, ia mengatakan bahwa dengan membuat buku sendiri akan memberikan masukan tambahan bagi guru, mengingat gaji guru yang relatif kecil. Untuk itu ia meminta kepada pemerintah, supaya guru diizinkan untuk membuat buku sendiri, dan juga meminta agar supaya buku-buku yang berasal dari penerbit dijual melalui guru, jika ada yang terjual maka guru berhak mendapat sekian persen dari harga penjualan. Hal ini sekali lagi untuk membantu guru mencari penghasilan tambahan.
Menarik untuk menyimak beragam reaksi dari orang tua murid, guru, dan penerbit. Orang tua tentu saja senang, karena mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membeli buku. Yang menarik perhatian saya adalah reaksi dari IKAPI dan salah seorang guru tadi (tentu tidak semua guru bereaksi seperti ini).
Adalah betul apa yang dikatakan IKAPI bahwa pendidikan akan selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan yang ada. Yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana perkembangan yang ada memberikan pengaruh terhadap pendidikan dasar dan menengah. Kalau pendidikan tinggi dimana kompetensi dari tamatannya sangat dibutuhkan untuk bisa bersaing di dunia kerja, adalah mutlak untuk menyediakan kurikulum yang dinamis. Itu pun hanya untuk mata kuliah tertentu, tidak untuk pengetahuan-pengetahuan dasar. Sementara di pendidikan dasar dan menengah yang diperlukan adalah penanaman hal-hal yang mendasar dari suatu ilmu. Jadi, kalau dikatakan bahwa pemakaian buku selama lima tahun dikhawatirkan tidak akan sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sektor pendidikan itu sendiri, rasanya kurang tepat. Karena dari tahun ke tahun, sesuatu yang menjadi dasar akan sulit mengalamai perubahan, atau kalaupun ada, paling juga sedikit.
Yang mungkin perlu digaris bawahi adalah sejauh mana peran guru untuk memahami perubahan-perubahan yang ada. Guru, sebagai salah satu komponen utama dalam suatu sistem pendidikan yang berinteraksi langsung dengan para siswa tentu diharapkan mampu untuk memberikan pengetahuan yang di satu sisi dengan kemampuan siswa itu sendiri tapi juga sejalan dengan perkembangan yang ada.
Jika kita melihat kembali ke muatan pendidikan dasar dan menengah, adakah muatan-muatan pada tingkat pendidikan ini mengalami perubahan yang dinamis setiap tahun? Menurut saya tidak. Justru yang lebih penting adalah bagaimana guru bisa menemukan metode mengajar yang sesuai agar murid bisa menangkap intisari dari mata pelajaran yang diberikan.
Tanggapan dari salah seorang guru untuk bisa membuat buku sendiri menarik untuk dicermati, mengingat guru lah yang paling mengerti keadaan muridnya. Hemat saya, memang sudah tugas guru untuk bisa mencari alternatif yang terbaik untuk kepentingan murid-muridnya. Jika guru diberikan wewenang untuk membuat buku sendiri, yang dikhawatirkan adalah munculnya konflik kepentingan, karena bisa saja masing-masing guru menganggap bahwa bukunya lah yang paling bagus. Bisa dibayangkan, ganti guru, ganti buku.
Buku adalah salah satu alat bantu yang dapat digunakan oleh guru dan siswa. Yang mungkin lebih penting untuk dicermati adalah bagaimana guru bisa mencari metode yang tepat agar siswa dapat memahami dan menangkap intisari dari setiap mata pelajaran yang diberikan. Kebijakan pemerintah untuk tidak mengganti buku dalam jangka waktu lima tahun untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah menurut saya tidak bertentangan dengan misi pendidikan kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah adalah tempat dimana semua orang harus belajar, bukan hanya siswa, tapi juga guru dan para staff. Tugas guru adalah belajar meningkatkan ilmunya dan kemampuan mengajarnya. Jangan sampai, dengan buku yang sama, guru juga menggunakan metode mengajar yang sama selama lima tahun, padahal siswa yang dihadapi berbeda.
“Teaching is a work of heart...” (no name, 2002)
Tuesday, October 26, 2004
Menyongsong Indonesia Baru
Pemerintahan baru telah terbentuk. Ada yang ragu, ada yang optimis, ada yang mendukung, dan ada juga yang belum-belum sudah mengambil jarak terhadap pemerintahan baru.
Mungkin tidak ada salahnya jika kita memberikan kesempatan kepada pemimpin bangsa ini untuk bekerja dengan tenang tanpa adanya prasangka-prasangka negative. Adalah akan sangat bijaksana jika kita memberikan dukungan yang tulus kepada pemerintahan baru untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Belum ada bukti nyata yang bisa kita lihat sekarang yang bisa dijadikan parameter untuk menilai kinerja pemerintahan baru ini. Biarkan mereka bekerja dengan tenang, dan mari kita dukung dan bekerja sama untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, yang lebih arif dan lebih manusiawi. Mudah-mudahan suatu saat nanti Taufik Ismail akan menulis sebuah puisi baru dengan judul “Aku bangga jadi orang Indonesia”.
Selamat bekerja kepada pemerintahan baru!
Mungkin tidak ada salahnya jika kita memberikan kesempatan kepada pemimpin bangsa ini untuk bekerja dengan tenang tanpa adanya prasangka-prasangka negative. Adalah akan sangat bijaksana jika kita memberikan dukungan yang tulus kepada pemerintahan baru untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Belum ada bukti nyata yang bisa kita lihat sekarang yang bisa dijadikan parameter untuk menilai kinerja pemerintahan baru ini. Biarkan mereka bekerja dengan tenang, dan mari kita dukung dan bekerja sama untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, yang lebih arif dan lebih manusiawi. Mudah-mudahan suatu saat nanti Taufik Ismail akan menulis sebuah puisi baru dengan judul “Aku bangga jadi orang Indonesia”.
Selamat bekerja kepada pemerintahan baru!
Thursday, October 21, 2004
Intermezzo...
Hari itu saya ke kantor pos
Hendak mengirim surat
Maksud hati mengirim dengan biaya murah
Perangko surat yang seharusnya cuman 2000 perak
Akhirnya terbayar dengan 3000 perak
Mau tau kenapa?
Dengan santai pegawai pos itu hanya berkata
“Semestinya cuman 2000, tapi perangkonya habis, jadi beli yang 3000 saja!”
*dalam hati saya bertanya, kalo duit saya kurang, mereka mau toleran gak ya??*
Aneh......
Perangko adalah salah satu barang utama di kantor pos. Kok bisa habis ya? Yang mengenaskan adalah karena pelanggan akhirnya harus membayar lebih karena kelalaian kantor pos yang kehabisan stok perangko. Bukan soal kelebihan ongkos 1000 yang memberatkan, tapi betapa perlakuan itu memperlihatkan bahwa sebagai pengguna kantor pos, hak pelanggan terkesan sangat tidak terlindungi. Ketika kejadian itu, saya tidak sendirian. Sekali lagi saya bertanya, jika uang saya kurang 500 perak, mau tidak ya kantor pos itu memberikan saya perangko seharga 1500 perak?? Kemungkinan besar jawabannya tidak!
Hendak mengirim surat
Maksud hati mengirim dengan biaya murah
Perangko surat yang seharusnya cuman 2000 perak
Akhirnya terbayar dengan 3000 perak
Mau tau kenapa?
Dengan santai pegawai pos itu hanya berkata
“Semestinya cuman 2000, tapi perangkonya habis, jadi beli yang 3000 saja!”
*dalam hati saya bertanya, kalo duit saya kurang, mereka mau toleran gak ya??*
Aneh......
Perangko adalah salah satu barang utama di kantor pos. Kok bisa habis ya? Yang mengenaskan adalah karena pelanggan akhirnya harus membayar lebih karena kelalaian kantor pos yang kehabisan stok perangko. Bukan soal kelebihan ongkos 1000 yang memberatkan, tapi betapa perlakuan itu memperlihatkan bahwa sebagai pengguna kantor pos, hak pelanggan terkesan sangat tidak terlindungi. Ketika kejadian itu, saya tidak sendirian. Sekali lagi saya bertanya, jika uang saya kurang 500 perak, mau tidak ya kantor pos itu memberikan saya perangko seharga 1500 perak?? Kemungkinan besar jawabannya tidak!
Hati2 lah jika Anda berbelanja
Hari itu saya ke supermarket
Hati saya miris membaca tulisan di kasir
“Periksa tanggal kadaluarsa yang Anda beli
Barang kadaluarsa yg telah Anda beli diluar tanggung jawab manajemen”
*dalam hati saya ngedumel, trus apa dong tugas manajemen? Hanya naruh barang tanpa mengecek apakah barang yang dijual sudah expire atau tidak??*
Saya tidak tahu jenis manajemen apa yang digunakan oleh supermarket tersebut. Sepengetahuan saya jika ada barang yang dijual, adalah tugas supermarket untuk mengecek apakah barang2nya layak jual. Jika barang tersebut tidak layak jual, maka barang2 tersebut tidak boleh sampai ke tangan konsumen. Jika ternyata konsumen lalai dalam mengecek kadaluarsa barang, lantas pada siapa dia harus mengadu? Bukankah manajemen supermarket tersebut sudah pasang kuda2, dengan memasang peringatan tersebut? Kasihan sekali para konsumen kita, di negerinya sendiri, bahkan hak untuk berbelanja dengan rasa aman sama sekali tidak dilindungi oleh pemilik toko!
Hati saya miris membaca tulisan di kasir
“Periksa tanggal kadaluarsa yang Anda beli
Barang kadaluarsa yg telah Anda beli diluar tanggung jawab manajemen”
*dalam hati saya ngedumel, trus apa dong tugas manajemen? Hanya naruh barang tanpa mengecek apakah barang yang dijual sudah expire atau tidak??*
Saya tidak tahu jenis manajemen apa yang digunakan oleh supermarket tersebut. Sepengetahuan saya jika ada barang yang dijual, adalah tugas supermarket untuk mengecek apakah barang2nya layak jual. Jika barang tersebut tidak layak jual, maka barang2 tersebut tidak boleh sampai ke tangan konsumen. Jika ternyata konsumen lalai dalam mengecek kadaluarsa barang, lantas pada siapa dia harus mengadu? Bukankah manajemen supermarket tersebut sudah pasang kuda2, dengan memasang peringatan tersebut? Kasihan sekali para konsumen kita, di negerinya sendiri, bahkan hak untuk berbelanja dengan rasa aman sama sekali tidak dilindungi oleh pemilik toko!
Saturday, August 21, 2004
maaf yaaa...
Wahh tulisan di situs saya ini topiknya rada lompat2 juga. Maaf ya, soalnya saya nulis tergantung suasana hati dan emut2an gitu. Topik terakhir soal academic culture itu saya kutip dari thesis saya. Belakangan sedang sibuk, berusaha menyelesaikan "tugas" di negeri kincir ini. Sebulan lalu banyak posting puisi kampung, maklum a bit depressed kadang2. Happy reading deh, moga bermanfaat....
"Maka karunia manakah dari Tuhanmu yg hendak engkau dustakan?"
"Maka karunia manakah dari Tuhanmu yg hendak engkau dustakan?"
Improving Academic Culture
Academic culture is shaped by the shared norms and the values of people within a school. To improve academic culture, one cannot ignore what actually happens in the classrooms, the places where the primary process of schools occurs. In classrooms, teachers’ expectations are critical in shaping the interactions with students. Teachers as the central figure in the class must be aware of their expectations and their teaching approaches. There are teachers who believe that their instruction can make change for better classroom culture while others tend not to believe it.
Improving academic culture must involve everybody in a school. Collegiality is considered as one important factor that affects the shape of academic culture. Teachers must be encouraged to build collegial relationships that can facilitate change. Through an open communication and discussion about learning and teaching issues will enhance the working relationships which will contribute to improve the academic culture in a school.
According to Jim Collins (2001) in DuFour (2004), successful innovation was the result of patient, persistent, sustained effort over time rather than a short term, ground breaking program. For continuous improvement, collaboration where teachers work as team is needed more than upgrading individual teacher’s ability. This can only occur in a healthy school culture which designed to promote higher levels of professional collaboration, collegiality, and self-determination (Wagner & Masden-Copas, 2002).
Improving academic culture must involve everybody in a school. Collegiality is considered as one important factor that affects the shape of academic culture. Teachers must be encouraged to build collegial relationships that can facilitate change. Through an open communication and discussion about learning and teaching issues will enhance the working relationships which will contribute to improve the academic culture in a school.
According to Jim Collins (2001) in DuFour (2004), successful innovation was the result of patient, persistent, sustained effort over time rather than a short term, ground breaking program. For continuous improvement, collaboration where teachers work as team is needed more than upgrading individual teacher’s ability. This can only occur in a healthy school culture which designed to promote higher levels of professional collaboration, collegiality, and self-determination (Wagner & Masden-Copas, 2002).
Saturday, August 07, 2004
Lagi Iseng...
Bener gak ya hidup itu suatu misteri?
Satu saat kita bersiap untuk beranjak
Dan disaat yg hampir bersamaan
Seakan ada yg menahan kita untuk beranjak
Apa itu suatu kebetulan?
Bisa jadi....
Tapi dalam hidup tidak ada yg kebetulan
Karena semua sebenarnya serangkaian peristiwa
Yg mungkin hanya dengan ketulusan hati
Rahasianya bisa terungkap
Karena itu kali ya kita diperintahkan menjaga hati?
Biar otak sama hati bisa sinkron
Biar kita bisa tanggap pada setiap peristiwa
Biar hikmah di dalamnya tidak berlalu begitu saja
Mending kalo seperti angin
Yang masih bisa dirasakan kehadirannya
Kadang malah, saking hitamnya hati kita
"hembusan angin" itu pun tidak terasa
Tapi gimana mau bersih ya hati ini?
Tiap hari ada saja kejadian
Bukannya hikmah yg diperoleh
Eh, malah menggerutu, mengeluh...
Terus bertanya sendiri? "Kok bisa ya?"...
Setelah itu, yg disalahkan bukan diri sendiri lagi
Sebagai manusia, kita mungkin tidak tau diri kali ya?
Maunya dimengerti, tapi gak mau mengerti
Maunya didengar, tapi gak mau mendengar
Berharap orang bersikap sesuai keinginan kita
Padahal kita sendiri..
Mungkin bersikap karena ego kita
Ah... saya juga tidak tau deh
Maklum lagi iseng....
Satu saat kita bersiap untuk beranjak
Dan disaat yg hampir bersamaan
Seakan ada yg menahan kita untuk beranjak
Apa itu suatu kebetulan?
Bisa jadi....
Tapi dalam hidup tidak ada yg kebetulan
Karena semua sebenarnya serangkaian peristiwa
Yg mungkin hanya dengan ketulusan hati
Rahasianya bisa terungkap
Karena itu kali ya kita diperintahkan menjaga hati?
Biar otak sama hati bisa sinkron
Biar kita bisa tanggap pada setiap peristiwa
Biar hikmah di dalamnya tidak berlalu begitu saja
Mending kalo seperti angin
Yang masih bisa dirasakan kehadirannya
Kadang malah, saking hitamnya hati kita
"hembusan angin" itu pun tidak terasa
Tapi gimana mau bersih ya hati ini?
Tiap hari ada saja kejadian
Bukannya hikmah yg diperoleh
Eh, malah menggerutu, mengeluh...
Terus bertanya sendiri? "Kok bisa ya?"...
Setelah itu, yg disalahkan bukan diri sendiri lagi
Sebagai manusia, kita mungkin tidak tau diri kali ya?
Maunya dimengerti, tapi gak mau mengerti
Maunya didengar, tapi gak mau mendengar
Berharap orang bersikap sesuai keinginan kita
Padahal kita sendiri..
Mungkin bersikap karena ego kita
Ah... saya juga tidak tau deh
Maklum lagi iseng....
Wednesday, June 30, 2004
Kesan Pertama ...
Kemarin ada "diksusi" menarik dengan salah seorang teman saya. Saya beri tanda kutip, karena tadinya berawal dari obrolan biasa saja sampai akhirnya pembicaraan kami mengarah ke hal2 yang lebih serius.
Saya terkesan dengan kata2 terakhir yg dia ucapkan, mengenai betapa banyak orang yg bisa berubah dalam satu menit dalam setiap perkataan yang entah terucap atau melalu tulisan. Perubahan2 tersebut akan diikuti dengan penjelasan2 yg diharapkan dapat menyampaikan "pesan" yg "sebenarnya" dari orang2 tersebut.
Yang menurut saya menarik, teman saya ini lebih menyukai "kesan pertama" dan cenderung untuk tidak tertarik dengan penjelasan lebih lanjut yg kesannya ingin memperjelas. Jadi apa yg diucapkan atau ditulis pertama kali, itulah gambaran yg akan ia tangkap. Alasannya, karena kadang penjelasan itu bisa jadi sangat berbeda dengan apa yg diucapkan sebelumnya. Istilahnya bersilat lidah kali ya?
Saya hanya membayangkan, dalam kehidupan sehari2 mungkin banyak terjadi kesalahpahaman yang terjadi antara orang2 yg berkomunikasi satu sama lain karena adanya perbedaan pemahaman tadi. Bisa jadi memang penjelasan itu adalah makna sebenarnya dari apa yg ingin seseorang ungkapkan, cuman karena ketidakmampuan atau kesalahan memilih istilah akhirnya maknanya sendiri menjadi kabur. "First impression" memang penting, tapi mungkin bagus juga kali ya kalo kita mencoba mengetahui What inside "the impression" is. Just a thought....
Saya terkesan dengan kata2 terakhir yg dia ucapkan, mengenai betapa banyak orang yg bisa berubah dalam satu menit dalam setiap perkataan yang entah terucap atau melalu tulisan. Perubahan2 tersebut akan diikuti dengan penjelasan2 yg diharapkan dapat menyampaikan "pesan" yg "sebenarnya" dari orang2 tersebut.
Yang menurut saya menarik, teman saya ini lebih menyukai "kesan pertama" dan cenderung untuk tidak tertarik dengan penjelasan lebih lanjut yg kesannya ingin memperjelas. Jadi apa yg diucapkan atau ditulis pertama kali, itulah gambaran yg akan ia tangkap. Alasannya, karena kadang penjelasan itu bisa jadi sangat berbeda dengan apa yg diucapkan sebelumnya. Istilahnya bersilat lidah kali ya?
Saya hanya membayangkan, dalam kehidupan sehari2 mungkin banyak terjadi kesalahpahaman yang terjadi antara orang2 yg berkomunikasi satu sama lain karena adanya perbedaan pemahaman tadi. Bisa jadi memang penjelasan itu adalah makna sebenarnya dari apa yg ingin seseorang ungkapkan, cuman karena ketidakmampuan atau kesalahan memilih istilah akhirnya maknanya sendiri menjadi kabur. "First impression" memang penting, tapi mungkin bagus juga kali ya kalo kita mencoba mengetahui What inside "the impression" is. Just a thought....
Thursday, June 24, 2004
Pintaku...
Tuhanku...
masukkan aku ke dalam golongan hamba2Mu yg senantiasa bersyukur
atas segala yg telah dan akan Kau berikan padaku
ihlaskan aku dalam menjadi proses kehidupanku
sesungguhnya hanya Engkaulah Yg Maha Mengetahui Sesuatu
dan KepadaMu lah segala sesuatu itu akan kembali
Semoga aku bisa merasakan kehadiranMu
dalam setiap tarikan nafas dan detak jantungku
Ihlaskan aku...
masukkan aku ke dalam golongan hamba2Mu yg senantiasa bersyukur
atas segala yg telah dan akan Kau berikan padaku
ihlaskan aku dalam menjadi proses kehidupanku
sesungguhnya hanya Engkaulah Yg Maha Mengetahui Sesuatu
dan KepadaMu lah segala sesuatu itu akan kembali
Semoga aku bisa merasakan kehadiranMu
dalam setiap tarikan nafas dan detak jantungku
Ihlaskan aku...
Wednesday, June 23, 2004
"Pendidikan" Yang Serba Instan
Saya salut dengan kepedulian beberapa rekan saya mengenai pendidikan kita. Kritikan2 mengenai wajah pendidikan kita yg keliatan morat marit patut disikapi sebagai suatu keinginan untuk melihat bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik. Ketika begitu banyak orang mengeluhkan pendidikan di Indonesia yg semakin mahal, bermunculanlah ide dari calon orang2 nomor satu di negeri kita untuk memberikan "pendidikan gratis". Padahal pendidikan itu bukan hanya sekedar masuk sekolah gratis, tapi lebih kepada apakah seseorang yg bersekolah bisa menjadi lebih terdidik atau tidak. "Pendidikan gratis" hanyalah salah satu faktor saja, dan sayangnya menurut saya bukan faktor yg esensial.
Menjalankan suatu institusi pendidikan yg sederhana sekalipun, akan senantiasa membutuhkan biaya. Apakah itu mahal atau tidak, adalah sesuatu yang relatif. Misalnya saja anak2 pinggiran yg tidak pernah mengenyam pendidikan. Mereka mungkin tidak membutuhkan fasilitas yg wah untuk belajar, karena untuk kondisi mereka mungkin hanya membutuhkan kapur, papan tulis dan seperangkat alat tulis yg bisa membantu mereka membaca dan berhitung. Permainan anak2 yg mahal dan berkualitas, mungkin belum perlu untuk mereka, karena skala prioritas dan keterbatasan dana. Dana tetap dibutuhkan, tapi dalam jumlah yg lebih kecil. Ceritanya tentu akan lain jika kita ingin menyediakan model pendidikan yg lebih mengarah ke keterampilan yg lebih spesifik. Dimana alat dan fasilitas tambahan akan sangat dibutuhkan. Dan ini tentu saja membutuhkan biaya tambahan bukan sekedar dana untuk membeli kapur dan papan tulis.
Yg menjadi persoalan, ketika kita ingin mendirikan sekolah, terkadang kita hanya berpikir ada guru, materi, "sedikit" fasilitas, dst. Kontinuitas pendidikan itu agar dapat survive mungkin agak terlupakan. Saya pernah berdiskusi dengan seorang dosen manajemen yg juga bekerja di bisnis pendidikan. Beliau mengatakan bahwa untuk bisnis pendidikan kita membutuhkan modal yg kuat untuk tetap survive minimal 3 sampe 5 tahun. Jadi kalo kita cuma punya modal "seadanya" yg diperlukan sebagai dana awal untuk menjalankan suatu sekolah, pada akhirnya pendidikan itu akan menjadi mahal, karena biaya operasional mungkin akan terus meningkat. Akibatnya, peserta didik yg harus menanggung kenaikan biaya tersebut karena ketidakmampuan pengelola untuk menutupi biaya-biaya tambahan yg mungkin tidak terduga.
Selama ini kita (termasuk saya) selalu mengeluhkan model pendidikan kita yg serba instan. Kita mungkin lupa, bahwa ternyata bukan model pendidikannya saja yg instan, dana yg kita sediakan pun ternyata instan juga. Ketika biaya meningkat, kita keteteran, karena dana yg instant tadi tidak cukup mampu beradaptasi dengan harga2 pasar untuk keperluan pendidikan. Konsekuensinya, uang sekolah naik dan kita menyalahkan pendidikan yg mahal. Padahal mungkin "hitung2an" pengelola pendidikan yg juga salah dan meleset :). Pendidikan memang suatu masalah yg kompleks. Banyak faktor yg berpengaruh, apakah itu intern atau ekstern. Kita butuh dana untuk membangun sebuah sistem pendidikan yang baik. Pertanyaanya adalah sejauh mana dana tersebut digunakan dalam merancang dan menjalankan suatu model pendidikan yg tepat dengan skala prioritas yg jelas. Dana instan, model instan, hasilnya....
Menjalankan suatu institusi pendidikan yg sederhana sekalipun, akan senantiasa membutuhkan biaya. Apakah itu mahal atau tidak, adalah sesuatu yang relatif. Misalnya saja anak2 pinggiran yg tidak pernah mengenyam pendidikan. Mereka mungkin tidak membutuhkan fasilitas yg wah untuk belajar, karena untuk kondisi mereka mungkin hanya membutuhkan kapur, papan tulis dan seperangkat alat tulis yg bisa membantu mereka membaca dan berhitung. Permainan anak2 yg mahal dan berkualitas, mungkin belum perlu untuk mereka, karena skala prioritas dan keterbatasan dana. Dana tetap dibutuhkan, tapi dalam jumlah yg lebih kecil. Ceritanya tentu akan lain jika kita ingin menyediakan model pendidikan yg lebih mengarah ke keterampilan yg lebih spesifik. Dimana alat dan fasilitas tambahan akan sangat dibutuhkan. Dan ini tentu saja membutuhkan biaya tambahan bukan sekedar dana untuk membeli kapur dan papan tulis.
Yg menjadi persoalan, ketika kita ingin mendirikan sekolah, terkadang kita hanya berpikir ada guru, materi, "sedikit" fasilitas, dst. Kontinuitas pendidikan itu agar dapat survive mungkin agak terlupakan. Saya pernah berdiskusi dengan seorang dosen manajemen yg juga bekerja di bisnis pendidikan. Beliau mengatakan bahwa untuk bisnis pendidikan kita membutuhkan modal yg kuat untuk tetap survive minimal 3 sampe 5 tahun. Jadi kalo kita cuma punya modal "seadanya" yg diperlukan sebagai dana awal untuk menjalankan suatu sekolah, pada akhirnya pendidikan itu akan menjadi mahal, karena biaya operasional mungkin akan terus meningkat. Akibatnya, peserta didik yg harus menanggung kenaikan biaya tersebut karena ketidakmampuan pengelola untuk menutupi biaya-biaya tambahan yg mungkin tidak terduga.
Selama ini kita (termasuk saya) selalu mengeluhkan model pendidikan kita yg serba instan. Kita mungkin lupa, bahwa ternyata bukan model pendidikannya saja yg instan, dana yg kita sediakan pun ternyata instan juga. Ketika biaya meningkat, kita keteteran, karena dana yg instant tadi tidak cukup mampu beradaptasi dengan harga2 pasar untuk keperluan pendidikan. Konsekuensinya, uang sekolah naik dan kita menyalahkan pendidikan yg mahal. Padahal mungkin "hitung2an" pengelola pendidikan yg juga salah dan meleset :). Pendidikan memang suatu masalah yg kompleks. Banyak faktor yg berpengaruh, apakah itu intern atau ekstern. Kita butuh dana untuk membangun sebuah sistem pendidikan yang baik. Pertanyaanya adalah sejauh mana dana tersebut digunakan dalam merancang dan menjalankan suatu model pendidikan yg tepat dengan skala prioritas yg jelas. Dana instan, model instan, hasilnya....
Saturday, June 19, 2004
Mampukah kita mengubah acara pertelevisian kita menjadi lebih manusiawi?
Tulisan ini diilhami dari diskusi teman2 di milis yahoogroups mengenai acara pertelevisian di Indonesia. Untuk yg tertarik bisa melihat di http://tv.groups.yahoo.com/group/indotvwatch/.
Acara-acara pertelevisian kita sepertinya semakin hari semakin memprihatinkan. Format2 acara yg berbau mistis semakin banyak, demikian pula dengan sinteron2 yg untuk sebagian besar masyarakat kita seperti dijejali dengan mimpi2 indah. Efek dari acara2 yg ditayangkan pun mungkin semakin memprihatinkan terutama terhadap anak-anak, cikal bakal pemimpin bangsa ini kelak. Ketika format bahasa mereka mulai mengejutkan para orang tua karena menggunakan kata2 yg semetinya tidak layak diucapkan oleh anak2, orang tua mungkin hanya bisa mengurut dada. Perilaku negatif juga bermunculan dan tidak dapat dipungkiri, televisi memberikan pengaruh yg cukup signifikan terhadap pembentukan perilaku2 "baru" tersebut. Yg lebih menyedihkan lagi, ketika diberitakan ada seorang anak yg berniat bunuh diri hanya karena tidak diizinkan untuk menonton acara kesayangannya. Betapa menyedihkan nasib bangsa ini.
Saya sendiri tidak akan mengomentari banyak mengenai acara2 tersebut. Yang jelas, dibutuhkan nurani dari para insan pertelevisian kita untuk bisa lebih jujur dan bijaksana dalam melihat dan mengamati apa efek dari acara2 yg mereka tayangkan. Tanpa adanya kesadaran tersebut, akan sulit kita mengharapkan perubahan dari format tayang yg mungkin sudah sampai pada tahap mengerikan. Undang2 pertelivisian juga mungkin tidak akan membantu banyak, jika memang kesadaran nurani itu tidak terbentuk. Apakah kita selaku konsumer bisa melakukan sesuatu untuk mengubah itu? Apakah suara2 orang2 yg peduli akan cukup didengar ketika menyuarakan efek2 negatif yg telah muncul di masyarakat seiring dengan semakin ramainya program pertelevisian kita? Saya sendiri agak meragukan itu, tapi paling tidak ada angin sejuk berhembus ketika segelintir orang mulai "terbangun" dari mimpi indah.
Acara-acara pertelevisian kita sepertinya semakin hari semakin memprihatinkan. Format2 acara yg berbau mistis semakin banyak, demikian pula dengan sinteron2 yg untuk sebagian besar masyarakat kita seperti dijejali dengan mimpi2 indah. Efek dari acara2 yg ditayangkan pun mungkin semakin memprihatinkan terutama terhadap anak-anak, cikal bakal pemimpin bangsa ini kelak. Ketika format bahasa mereka mulai mengejutkan para orang tua karena menggunakan kata2 yg semetinya tidak layak diucapkan oleh anak2, orang tua mungkin hanya bisa mengurut dada. Perilaku negatif juga bermunculan dan tidak dapat dipungkiri, televisi memberikan pengaruh yg cukup signifikan terhadap pembentukan perilaku2 "baru" tersebut. Yg lebih menyedihkan lagi, ketika diberitakan ada seorang anak yg berniat bunuh diri hanya karena tidak diizinkan untuk menonton acara kesayangannya. Betapa menyedihkan nasib bangsa ini.
Saya sendiri tidak akan mengomentari banyak mengenai acara2 tersebut. Yang jelas, dibutuhkan nurani dari para insan pertelevisian kita untuk bisa lebih jujur dan bijaksana dalam melihat dan mengamati apa efek dari acara2 yg mereka tayangkan. Tanpa adanya kesadaran tersebut, akan sulit kita mengharapkan perubahan dari format tayang yg mungkin sudah sampai pada tahap mengerikan. Undang2 pertelivisian juga mungkin tidak akan membantu banyak, jika memang kesadaran nurani itu tidak terbentuk. Apakah kita selaku konsumer bisa melakukan sesuatu untuk mengubah itu? Apakah suara2 orang2 yg peduli akan cukup didengar ketika menyuarakan efek2 negatif yg telah muncul di masyarakat seiring dengan semakin ramainya program pertelevisian kita? Saya sendiri agak meragukan itu, tapi paling tidak ada angin sejuk berhembus ketika segelintir orang mulai "terbangun" dari mimpi indah.
Monday, June 14, 2004
Dutch songs
These last days I have been listenning to Dutch song. Some of them are really nice. But it takes time to understand what the songs are all about. ...Het is well over, maar nog niet voorbij..... :D
Subscribe to:
Posts (Atom)
